Kamis, 30 Oktober 2014


Posted on 07.29 by Unknown

No comments

Rabu, 29 Oktober 2014


Posted on 06.41 by Unknown

No comments

JENIS-JENIS BURUNG HANTU YANG ADA DI INDONESIA


1. Burung Hantu Tito Alba (Barn Owl)

Dikenal juga dengan nama Burung hantu Tito, atau Serak Jawa atau Barn Owl. Jenis burung hantu ini bertubuh besar dengan tubuh bagian atas berwarna kuning tua kecokelatan dengan bercak halus, sedangkan bagian bawah berwarna putih dengan bintik hitam. Tingginya mungkin sekitar 34 cm. Ciri-ciri burung hantu Tito adalah memiliki wajah yang berwarna putih yang berbentuk seperti hati. 

Habitat burung hantu tito alba ini adalah daerah berpohon di tepi hutan, perkebuann, hingga taman kota dengan ketinggian mencapai 1.600 m di atas permukaan laut. Burung hantu jenis ini dapat ditemukan di seluruh benua, kecuali Antartika.
Tyto alba merupakan jenis burung hantu terpopular di Indonesia.

Wilayah persebaran : 


Hampir di seluruh dunia Kebiasaan :

Bersembunyi pada siang hari di dalam lubang gelap di rumah-rumah, pohon, batu karang atau vegetasi yang rapat. Umumnya di hutan bakau dan pantai, tetapi muncul saat malam hari untuk berburu di lapangan terbuka. Terbang rendah di atas tanah dengan kepakan sayap tanpa bersuara. Makanan :

Tikus besar dan kecil, kalong, kadang-kadang burung lain, reptil, amfibi, dan serangga besar. Perkembangbiakan :

Di alam liar, Tyto alba berkembang biak pada bulan Mei – Juli. Induk berina bertelur sebanyak 3 – 4 butir, telur berwarna putih yang diletakkan pada sarang yang tidak dilapisi di dalam lubang pohon, atau pada tembok batu atau bangunan.

2. Wowo-wiwi (Bay Owl)


Dikenal juga dengan nama Serak Bukit atau Oriental Bay Owl, dan memiliki nama latin Phodilus badius. Burung hantu jenis ini memiliki wajah khas yang bisa dibilang mirip ular sendok. Tingginya sekitar 27 cm. Daerah penyebarannya adalah wilayah Asia Tenggara.

Wilayah persebaran :


India, Asia Tenggara, China Selatan, dan Indonesia (khususnya Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Bali). Namun belakangan ini, bay owl makin jarang dijumpai di Jawa dan Bali. Mereka biasanya mendiami kawasan hingga ketinggian 1.500 meter dari permukaan tanah. Kebiasaan :

Kurang diketahui secara jelas. Tetapi burung hantu jenis ini umumnya memiliki sifat pemalu. Mereka juga aktif di malam hari. Pada saat siang hari sering terlihat duduk agak mendatar, hampir menyerupai burung paruh katak. Makanan :

Tikus, burung kecil, reptil, amfibi, serangga, dan kadal. Perkembangbiakan :

Bersarang pada lubang pohon, dengan jumlah telur umumnya 2 butir (terkadang ada yang berjumlah 3 butir), warna telur putih.

3. Celepuk Merah (Reddish Scops Owl)


Dikenal juga dengan nama Reddish scops-owl serta memiliki nama latin Otus rufescens. Ukuran tubuh mereka sangat kecil, tingginya hanya sekitar 15-18 cm. Habitat celepuk merah adalah daerah dataran rendah dengan banyak pepohonan, perbukitan, serta hutan primer dan sekunder. Secara umum, habitat mereka berada pada dataran rendah, tetapi ada juga yang hidup di daerah dengan ketinggian mencapai 1.350 m di atas permukaan laut. Daerah penyebaran celepuk merah antara lain Sumatera, Jawa, Kalimantan hingga Semenanjung Thailand, dan Semenanjung Malaysia.

Wilayah persebaran : 


Semenanjung Malaysia, Filipina, Kalimantan, Jawa (dataran rendah, terbatas di sebelah barat). Kebiasaan :

Sering mendiami kawasan hutan di dataran rendah. Data lain belum diketahui. Makanan :

Kemungkinan serangga dan binatang kecil lainnya. Perkembang biakan :

Belum ada laporan tertulis mengenai hal ini.

4. Celepuk Gunung (Javan Scops Owl) 


Dikenal juga dengan nama Javan Scops Own dan memiliki nama latin Otus angelinae. Burung hantu berukuran kecil ini (tingginya sekitar 20 cm) merupakan spesies burung hantu langka yang hanya dapat ditemukan di Indonesia. Selain itu, burung hantu ini juga tidak memiliki sub-spesies. 

Wilayah persebaran : 


Endemik di Jawa Barat (hanya terdapat di pegunungan tinggi, itu pun kemungkinan hanya ada di Gunung Pangrango). Kebiasaan :

Kurang diketahui, biasanya berada di hutan pegunungan dengan ketinggian 1.000-2.500 meter dari permukaan laut. Makanan :

Serangga besar, termasuk kumbang. Perkembangbiakan :

Tidak banyak catatan, tetapi kemungkinan sama dengan kerabat dekat celepuk gunung yang hidup di Asia, bertelur 3 - 4 butir, sarang memanfaatkan lubang pohon atau bekas sarang burung dari keluarga Captonidae.

5. Celepuk (Collared Scops Owl)

Dikenal juga dengan nama Indian Scops Owl dan memiliki nama latin Otus bakkamoena. Habitat clepuk adalah di dalam hutan dan area yang banyak pohonnya. Meskipun ukuran tubuh mereka hanya sekitar 23 - 25 cm, tetapi mereka adalah salah satu yang terbesar dari spesies scops owl. Mereka adalah pemakan serangga dan merupakan binatang nokturnal. Karena kemampuan kamuflasenya yang cukup mumpuni, akan sangat sulit menemukan mereka di siang hari. Daerah penyebaran Indian Scops Owl adalah bagian selatan Asia meliputi Bagian Timur dari Timur Tengah, anak benua India, hingga ke beberapa negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Wilayah persebaran : 


India, China, dan Asia Tenggara termasuk Indonesia (terutama Jawa dan Bali). Kebiasaan :

Bertengger pada tempat yang rendah, hampir sepanjang malam mengeluarkan bunyi sedih secra musiman. Mengintai mangsa dari tempat bertengger dan tiba-tiba menyergapnya. Makanan :

Serangga besar seperti kecoa, jangkrik, dan kumbang, serta beberapa jenis burung kecil. Perkembangbiakan :

Bertelur dengan jumlah 2 – 3 butir, telur berwana putih dan hampir bulat sempurna. Sarang diletakkan dalam lubang pohon, pelepah daun palem, atau rumpun bambu.

6. Celepuk Rajah (Rajah's Scops Owl)


Burung hantu yang hanya berukuran sekitar 23 cm ini emiliki nama latin Otus brookei. Bisa dibilang burung hantu kecil ini merupakan yang paling tidak populer dibandingkan dengan jenis burung hantu lainnya di Indonesia. Karena memang hanya pernah ditemukan beberapa spesimen saja yang berasal dari daerah pegunungan di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa Timur.

Wilayah persebaran : 


Spesies burung hantu yang satu ini jarang sekali dikenal. Hanya pernah ditemukan beberapa spesimen yang berasal dari daerah pegunungan di Kalimantan, Sumatera, dan Jawa Timur. Kebiasaan :
Seperti burung hantu scops yang lain.
Makanan :
Serangga
Perkembangbiakan :

Belum ada catatan mengenai perilaku perkembangbiakan burung ini.

7. Hingkik (Barred Eagle Owl)


Memiliki nama lain Beluk Jampuk atau Barred Eagle Owl serta memiliki nama latin Bubo sumatranus. Sering juga disebut dengan nama Malay Eagle Owl. Habitat hingkik adalah di hutan tropis dan subtropis di dataran rendah. Daerah penyebaran Hingkik antara lain di Pulau Keeling, Brunei, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Singapura, dan Thailand.

Wilayah persebaran : 


Semenanjung Malaysia, Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Bali (jarang dijumpai di hutan dataran rendah) Kebiasaan :

Senang mandi di kolam dan aliran air, terbang cepat dan rendah dari tempat sembunyi pada saat menjelang gelap. Berburu dari tempat hinggap dan meloncat-loncat dengan indah. Makanan :

Tikus besar dan kecil, ikan-ikan kecil, ular, dan burung-burung kecil. Perkembangbiakan :

Sarang dibuat dalam lubang pohon, terkadang cukup rendah di atas tanah, menghasilkan 1-2 butir telur.

8. Bloketupu/Bubo Ketupu (Buffy Fish Owl) 


Dikenal juga dengan nama Bubo Ketupu atau Ketupa Ketupu atau Beluk ketupa atau Buffy Fish Owl. Dikenal juga sebagai Malay Fish Owl. Habitat Bloketupu adalah daerah hutan pegunungan tropis dan subtropis. Daerah penyebaran bloketupu ini antara lain di Brunei, Kamboja, India, Laos, Myanmar, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Indonesia.

Wilayah persebaran : 


Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Di negeri kita, hanya dijumpai di Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Bali (kadang terlihat di hutan dataran rendah). Kebiasaan :

Umumnya aktif di malam hari, tetapi sebagian aktif di siang hari di tempat-tempat yang teduh dan gelap. Senang mandi dan berendam lama-lama di dalam air. Sebagian besar menangkap makanannya dari dalam air. Makanan :

Ikan-ikan kecil, kodok, krustasea, mamalia dan reptil kecil. Perkembangbiakan :

Sarang dibuat dalam lubang pohon yang rapuh, atau bekas sarang burung lain pada pohon yang tinggi, hanya bertelur 1 butir dan berukuran besar, bulat, berwarna putih dengan bercak-bercak kotor.

9. Beluk watu Jawa (Asian Barred Owl)


Dikenal juga dengan nama Javan Owlet Glaucidium, serta memiliki nama latin Glaucidium castanopterum. Burung Hantu jenis ini adalah burung endemik Pulau Jawa dan Bali. Habitat beluk watu jawa adalah di kantung-kantung hutan di dataran rendah dan perbukitan. Namun mereka juga sering terlihat di pekarangan desa, hutan primer, dan hutan sekunder.

Wilayah persebaran : 


Asia Tenggara, di luar Semenanjung Malaysia, Jawa, dan Bali (dianggap sebagai jenis yang terpisah). Kebiasaan :

Sering berada di dusun, kebun, dan hutan sekunder. Aktif di malam hari, namun terkadang siang hari. Suaranya terdengar malam menjelang fajar. Makanan :

Serangga dan burung kecil Perkembangbiakan :
Bersarang di lubang kecil pada pohon, biasanya bertelur 2 telur berwarna putih

10. Punggok Cokelat (Brown Hawk Owl)

Spesies burung hantu yang memiliki nama latin Ninox scutulata ini dikenal juga dengan nama Brown Hawk-Owl. Burung ini berukuran medium, dengan tinggi sekitar 32 cm. Habitat Punggok Cokelatantara lain di hutan dan daerah yang banyak pepohonan. Daerah penyebaran punggok cokelatmeliputi Asia Selatan mulai dari India dan Sri Lanka hingga bagian timur Indonesia dan China Selatan.

Wilayah persebaran : 


Asia Timur dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Di Indonesia, habitanya hanya di Sumatera, Sulawesi, dan Jawa Barat. Kebiasaan :

Aktif saat menjelang senja di pinggir hutan atau perkebunan. Ia bisa terbang mengejar mangsa, seperti capung dan serangga, kemudian ditangkap dengan cakarnya saat terbang. Makanan :

Serangga, tonggeret, capung, kecoa, lebah, dan sebagainyal. Perkembangbiakan :

Bersarang di lubang kecil pada pohon, dengan telur yang berjumlah 2-3 butir, warna telur putih.

11. Seloputo (Spotted Wood Owl)

Burung yang dikenal juga dengan nama Spotted Wood Owl ini memiliki nama latin Strix seloputo. Termasuk kedalam spesies burung hantu yang berbadan besar. Tingginya sekitar 47 cm. Ada 3 sub-spesies dari Strix seloputo yaitu Strix seloputo seloputo (Myanmar dan Thailand Tengah hingga Singapura, serta Jambi (Sumatra) dan Jawa. Strix seloputo baweana (Endemik Pulau Bawean), danStrix seloputo wiepkini (Pulau Calamian dan Palawan (Filipina).

Wilayah persebaran : 


Asia Tenggara, Semenanjung Malaysia, Pulau Palawan (Filipina), dan Jawa. Bentuk yang lebih kecil terdapat di Pulau Bawean.

Kebiasaan :

Sering berada di hutan dataran rendah, dan rumpun hutan dekat desa, atau juga di kota-kota.

Makanan :

Mamalia kecil, anakan burung, dan serangga.

Perkembangbiakan :

Bersarang di lubang pepohonan, jumlah telur 1-2 butir, telur berwarna putih.

12. Kokok Beluk (Brown Wood Owl)


Burung hantu yang dikenal juga dengan nama Brown Wood Owl ini memiliki nama latin Strix leptogrammica. Mereka termasuk jenis burung hantu berbadan besar. Tubuhnya setinggi 45-47 cm. Burung hantu jenis ini hidup di wilayah Asia Selatan seperti Sri Lanka dan India hingga ke Timur sampai ke Indonesia dan China Selatan.

Wilayah persebaran : 


India, China, dan Asia Tenggara termasuk Indonesi (Sumatera, Kalimantan dan wilayah barat Jawa).

Kebiasaan :

Nokturnal, jarang terlihat di siang hari. Jika terganggu pada siang hari, burung akan menggugurkan bulu-bulunya sehingga nampak seperti sepotong kayu mati dan melihat dengan mata setengah tertutup. Pasangannya akan memanggil-manggil sebelum hari gelap, atau beberapa saat sebelum waktu berburu.

Makanan :

Mamalia kecil, ulat, burung kecil dan kadang kadal

Perkembangbiakan :

Sarangnya hanya tumpukan kasar dari sampah, yang diletakkan didalam dasar lubang pada pohon.

13. Beluk Telinga Pendek (Short-Eared Owl)


Burung hantu yang dikenal juga dengan nama Short-eared Owl ini memiliki nama latin Asio flammeus. Jenis burung hantu ini memiliki setidaknyya 10 sub-spesies dan tersebar di seluruh benua kecuali Australia dan Antartika.

Wilayah persebaran : 


Di seluruh dunia. Tetapi Asia Tenggara hanya dijadikan sebagai persinggahan di musim dingin. Di Indonesia, mereka lebih sering dijumpai di Pulau Kangean saja.Kebiasaan :

Lebih menyukai daerah terbuka yang berumput. Sebagian besar aktif di daratan dan pada siang hari.Makanan :

Mamalia kecil, ulat, burung kecil dan kadang kadalPerkembangbiakan :

Belum ada catatan mengenai hal ini.

14. Celepuk Reban



Burung hantu kecil yang memiliki nama latin Otus lempiji ini memiliki banyak sekali nama panggilan. Nama umumnya adalah Celepuk, di Sunda disebut dengan beuek, sedangkan di Jawa Tengah disebutmanuk kuwek, sedangkan dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama Sunda Scops-Owl atauCollared Scops-Owl. Dulunya spesies ini dimasukkan dalam sub-spesies Otus bakkamoena, tetapi sekarang sudah tidak lagi. Daerah penyebaran burung celepuk reban ini adalah di Filipina, Kalimantan, Sumatera, Jawa, dan Bali.


Posted on 05.12 by Unknown

No comments

Selasa, 28 Oktober 2014



CARA MERAWAT BURUNG HANTU (BUBO SUMATRANUS)
, burung ini tersebar di sumatra type burung hantu kali ini
1. pemalas
2. kurang aktif dalam berinteraksi
3. tidak sentitif pada suhu kead'an Kembali lagi , saya di sini inggin sharing tentang type 
    burung hantu (owl) yg kali ini saya bahas jenis bubo sumatranus
4. insting berburunya tajam
5. type makan nya rakus

Jenis makanan nya :  burung kecil ( emprit/peking , tikus putih , anakan puyuh )
jika inggin memiliki owl jenis ini anda harus orang yg sabar karna butuh ketelatenan untuk merawat dan melatih nya agar menjadi burung predator yang ahli berburu dan terlatih, cara dan tips nya mudah kali ini saya akan membahas tips dan trik melatih bubo sumatranus

                yang pertama kali anda lakukan, cari typekal bubo yg chik (anakan) jika membeli atau memilih cari lah bagian dada nya yg putih bersih janggan ada hitam nya, karna mempengaruhi sifat karakter brung tersebut

              yang ke dua, anda mau tidak mau harus memberanikan diri untuk kotor'' memotong2 utamakan burung emprit ( peking ) belah menjadi 3 bagian : kepala , dan belah tubuh nya menjadi 2
lalu kasih 3 potonggan tersebut 1 hari 3 burung emprit jika memnggalami kesulitan melenalan nya kasih sedikit air denggan cara memberi sedikit air di samping paruh nya agar meperlancar nya

          yang ke tiga, jika merasa bubo anda sudah berumur juve atau sudah dapat terbang yg harus pertama kali anda lakukan buatkan tempat untuk bertengger biasakan brung tersebut, lalu ambil potonggan daging emprit tersebut , janggan lupa pakai lah sarung tanggan (glove) untuk penggaman akan cengraman burung hantu anda, lalu panggil nama nya atau peluit memang butuh ke sabaran, tidak bisa langsung merepond baik terkadang burung hantu ini sesuai type nya pemalas, jadi butuh kesabaran dan ketelatenan, ini trik tips nya jika inggin burung hantu type ini bisa merepon baik, tega atau tidak anda harus berani tidak memberi makan 1 malam saja dan malam berikut nya , ada latih lagi amazing'' di pastikan pasti merepond dan usahakan janggan di beri makan sampai kenyang, jika lama kelama'an dia merepon di panggil atau di peluit itu tanda nya anda sukses tinggal melanjut kan ke jenjang berikut nya
 yaitu jarak anda menaruh tempat untuk bertengger nya tersebut semakin jauh , selamat mencoba dan semoga sukses terimakasih, maaf jika tips cara saya belum bisa membuat anda puas mungkin anda belum beruntung, karna sudah banyak teman2 BOP saya sukses dan berasih dari tips saya .. sekian




.

Posted on 18.32 by Unknown

No comments